Well, sorry baru bisa ngepost mengenai ini sekarang. Sebenarnya kejadiannya udah lumayan lama (sampe gue pun lupa tanggal berapa), yang jelas sekitar dua minggu yang lalu. I need to take some time to patch my self up in this kind of ‘new’ condition. Gue butuh waktu untuk meredam emosi gue. Gue gak pengen begitu kejadian langsung gue post seenak jidat dan akhirnya gue sendiri nantinya yang rugi, you know, since blog is totally a-must-have-item in my school.
Awalnya dari kejadian kecil, biasalah, salah paham. Gak terlalu penting juga gue jelasin rincinya, intinya waktu itu dia salah paham sama maksud sms gue dan jadi marah, gue yang jelas-jelas bermaksud baik malah diomelin jelas gak terima, dan perlu dicatet, kata temen deket gue kebanyakan sikap gue kekanak-kanakan banget dan kadang kalo lagi kambuh sikap gue itu unacceptable banget, dan sikap gue itu kambuh pas dia lagi emosi. Jelas akhirnya berujung masalah yang lebih besar, dan karena gue tipe orang yang gak gitu suka ngeributin masalah lewat sms, semua sms dia gue cuekin. Gue tau gue salah gak ngebales satupun sms dari dia, tapi dalam pikiran gue (yang terkadang masih kekanak-kanakan itu) “what’s the big deal? Cuma perkara sms gak dibales doang…”. Dan ternyata gue salah, it IS A BIG DEAL for him, and I DO NOT REALIZE what I’ve done and what thing I will go through. Gue akui, gue salah banget, entah gimana menurut orang lain. Tapi, tolong dong! Gue itu cewenya (or should I say, his FORMER girlfriend), butuh pengertian juga, dan ini juga yang jadi alasan gue break up sama dia, kita berdua sama-sama kepala batu, gak ada yang mau ngalah duluan.
Setelah beberapa sms dari dia gue cuekin dan gue gak menunjukkan sikap pengen ngomongin masalah salah paham yang kemaren, gue tau banget, dia pasti kesel. Cuma lagi-lagi gue bersikap bego dan gak menyadari kesalahan besar apa yang udah gue perbuat, gue tau banget dia kecewa sama sikap gue yang kesannya gak mau nyelesain masalahnya. Let me get this clear, banyak banget kesalahpahaman antara gue dan dia, dan gue akui, kebanyakan gue yang salah makanya kita salah paham mulu, let me list them:
1. gue diem dan gak ngebales sms-sms dia bukan gara-gara gue udah bener-bener marah dan muak sama dia, ITU SALAH BANGET! Gue diem karena gue ngasih dia waktu buat mikir lagi, buat introspeksi diri, buat explore lagi apa yang salah, dan kalo dia udah selesai, gue siap ngedengerin dia kok. I NEVER angry with him, NEVER! Dan ternyata lagi-lagi salah paham, dia gak ngerti sama sikap ‘diam’ gue itu, dan mengartikan sikap gue itu sebagai wujud kalo gue udah males jalan sama dia. Kalo dipikir-pikir lagi, IYA GUE YANG SALAH, iya gue yang salah banget gak ngasih tau dia kenapa gue diem dan ngebiarin dia bingung apa maksud gue dengan nyuekin dia.
2. gue selalu bilang “terserah kamu aja”. I make it up to him doesn’t mean I don’t have my own opinion, tapi gue cenderung diem and let him lead the walk karena gue gak mau ngebuat dia ngerasa gak nyaman sama yang kita jalanin. Dan lagi-lagi gue salah, dia malah jadi mikir kalo gue ogah berurusan lagi sama dia, even until the words ‘break up’ spitted out.
Dan setelah gue pikir-pikir lagi, how stupid I am?! Hhh… If I ever had another chance to speak to him, I’d probably say “surely baby, there’s nothing wrong with me (that time). There’s no hurt feeling or anything else, I just gave you some time to stand back, review, and when you’re ready to comeback, then I’ll be ready too…”. But it seems like a really silly wish, I would never have any chance to say it to him.
Now everything’s over. Banyak juga yang nanya-nanya sama gue setelah gue putus, banyak pertanyaan yang (kemaren) sebagian besar gak bisa gue jawab, tapi yang pertanyaan yang paling banyak ditanyain ke gue itu “lo masih sayang sama dia?”. Honestly, sampe sekarang pun gue masih ragu ngejawabnya, but I’d probably answer “no. I’ve already had enough from the whole last year about those ‘love’ things with him”. Satu tahun udah lebih dari cukup buat gue untuk berurusan sama dia walaupun kenyataannya kita baru bareng selama 2 bulan. Dan pertanyaan kedua yang paling banyak ditanyain adalah, “lo nangis waktu putus sama dia?”. Oh please, I’m not that pathetic. I think my age is not suitable to crying on those silly things. TAPI, gue berpikir kea gitu cuma selama tenggat waktu pas dia mutusin dan sebelum kita ngomong. Setelah gue ngomong langsung sama dia, which really has ripped my heart, dua kalimat itu ilang auk kemana. I did cry after he hit the table on the canteen, I did realize that I’ve really hurt him, and one thing for sure, I still have a heart even though it seems that I’m not, so I do feel guilty even until now. Get the point? Gue ngepost ini karena sampe saat ini pun gue masih ngerasa punya salah sama dia.
And this last paragraph is dedicated to him. If you read this (which is almost impossible), I’m apologize for every wound and mistake that I’ve made. I’m sorry too cause I can’t make it face to face with you, honestly, I’m too pathetic to see your face and say all these things until the very last one without crying. And you know what? This line has really got stuck on my head, it is from Vertical Horizon in their song titled Best I Ever Had (Grey Sky Morning). Here it is: “and it may take some time to patch me up inside. And I can’t take it so I run away and hide. And I may find in time that YOU ARE ALWAYS RIGHT. You’re always right.” and “but it’s not so bad, you’re only the best I ever had. I don’t want you back, you’re just the best I ever had.” and my tear start to drown me in sadness again. Thanks for everything, these two months really has taught me to be patient, not to be such a kiddos anymore, to understand those things that hasn’t mentioned yet, and absolutely has taught me how to love you sincerely with everything inside and outside you. :’)





